Pemain Bintang Sadio Mane pun Trauma Jadi Eksekutor Penalti

Pemain Bintang Sadio Mane pun Trauma Jadi Eksekutor Penalti

Sadio Mane – Rasa trauma kelihatannya menjangkiti Sadio Mane sesudah menolong Senegal menaklukkan Uganda di babak 16 besar Piala Afrika 2019. Striker Liverpool itu mengatakan akan berhenti dahulu jadi pelaksana eksekusi penalti untuk sesaat waktu. Senegal meluncur ke perempat final Piala Afrika untuk ke-2 kali dengan berturut-turut dengan menyalip Uganda 1-0 di Cairo International Fase, Sabtu (6/7).

Kemenangan itu dicapai Les Lions de la Teranga karena gol tunggal Mane di menit ke-15. Semestinya hal tersebut membuat Mane senang. Sebab, ia sekarang jadi top score sesaat dengan koleksi tiga gol. Dapat dibuktikan, bomber berumur 27 tahun itu tidak dapat seutuhnya tersenyum. Kebahagiaannya dikit ternoda karena tidak berhasil menyelesaikan penalti yang didapatkan di menit ke-61.

Senegal berkesempatan meningkatkan keunggulan jadi 2-0 sesudah wasit Mustapha Ghorbal asal Aljazair menunjuk titik putih. Tetapi, itu urung berlangsung sebab tendangan Mane yang kembali diakui jadi algojo dapat ditepis penjaga gawang Denis Onyango. Itu ke-2 kali dengan berturut-turut Mane tidak berhasil mengoptimalkan sepakan penalti. Hal sama berlangsung saat Senegal menyalip Kenya 3-0 pada pertandingan paling akhir penyisihan Group C.

Di menit ke-29, Mane diinginkan dapat cetak gol pembuka. Tetapi, usahanya dihentikan penjaga gawang Patrick Matasi. Semuanya nyatanya merubah mental Mane. Imbasnya, figur berperawakan 175 cm itu akui tidak menyelesaikan penalti sampai waktu yang belum dipastikan. “Ini cuma untuk sesaat. Saya telah tidak berhasil menyelesaikan penalti sepanjang dua laga berturut-turut. Saya harus mengaku itu bukan rasio yang bagus,” tuturnya, dikutip Reuters.

Baca Juga : Lolos Tes Medis, Buffon Kembali ke Pangkuan Nyonya Tua

Mane memutuskan ini sebab tidak mau jadi penghambat buat Senegal dalam usaha memenangkan Piala Afrika untuk pertama-tama. Karenanya, ia akan mempersilakan pemain lainnya untuk bertanggung jawab itu. “Saya tidak mau jadi penghalang team ini. Paling tidak untuk sesaat waktu. Saya akan mundur dahulu jadi pelaksana eksekusi penalti serta minta rekanan segrup lainnya untuk mengerjakannya. Tetapi, saat kembali pada club, saya akan berupaya keras untuk menangani permasalahan ini,” tandas Mane.

Ketetapan Mane tentunya tidak searah dengan keinginan Pelatih Aliou Cisse. Masalahnya ia merasakan suka bila bekas pemain Southampton itu terus jadi pelaksana eksekusi penalti. Lebih Mane adalah jagoan team. Cisse ingin Mane terus menyelesaikan sepakan penalti walau sudah sempat tidak berhasil sepanjang dua pertandingan beruntun. Harapannya, supaya mentalnya masih terbangun. Sebab, itu dapat benar-benar menolong jika kelak Senegal terjebak dalam beradu penalti.

“Saya lihat ada keyakinan diri tinggi dalam Mane. Oleh karena itu ia ambil penalti. Ini ialah permasalahan yang perlu kami bahas dengan bersama dengan,” sebut pelatih berumur 43 tahun itu. Walau Mane mengatakan akan mundur dahulu jadi pelaksana eksekusi penalti, Cisse memperjelas belum menyetujuinya. Tujuannya, Mane akan terus jadi pilihan pertama jadi penendang penalti.

“Sebagai kapten, Mane akan tetap mendapatkan keyakinan serta suport dari kami. Ia selalu jadi pelaksana eksekusi penalti. Pada pertandingan ini, kami cukup mujur dapat cetak gol cepat. Ini ialah laga beradu fisik. Tetapi, memang semacam itu duel antarsesama team Afrika,” tandas Cisse.

Lepas permasalahan pelaksana eksekusi penalti, yang pasti Senegal tidak punyai waktu untuk santai. Masalahnya mereka telah dilawan Benin yang diduga jadi pembunuh raksasa. Kenyataannya, Les Ecureuils dapat singkirkan Maroko 4-1 melalui beradu penalti di Al Salam Fase, Jumat (5/7). Ini berlangsung sebab sepanjang waktu reguler serta extra time posisi masih seimbang 1-1.